eda hampir 2 tahun sejak melepas single “The Lady With The Sapphire in Her Eyes”, Serdadu Sam resmi merilis album penuh perdana bertajuk Kronik (16/01).
Berisi 13 trek, Kronik disusun sebagai kumpulan bab kehidupan, bukan album dengan pola konvensional. Tema yang diangkat mencakup ambisi, kegagalan, perpisahan, kehilangan, hingga semangat untuk terus memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Kenny, sosok di balik Serdadu Sam, menyebutkan album ini hadir sebagai dokumentasi batin.
“Saya tidak sedang membuat album komersial—saya sedang menulis catatan untuk dipahami oleh siapa pun yang pernah merasa sendiri dan lelah dihantam kerasnya kehidupan,” ujarnya dalam siaran pers.
Beberapa lagu memiliki durasi tidak lazim, salah satunya “Kalibut”, nomor progresif rock berdurasi lebih dari 12 menit yang mengangkat konflik Gaza. “Cerita sebuah lagu selesai saat ia selesai—bukan saat timer berhenti,” jelasnya.
Salah satu yang menjadi sorotan dalam album adalah reinterpretasi “Setengah Tiang” karya Harry Roesli yang dihadirkan dengan restu keluarga, serta sentuhan brass dan emosi kontemporer.
“Kami tidak ingin meng-cover. Kami ingin berdialog dengan masa lalu,” kata Kenny.
Album ini juga memuat single unggulan “Dan Akhirnya Selamanya”, kolaborasi dengan Bemby Gusti, yang ia dedikasikan untuk kedua putrinya.
Dalam proses produksi album, Serdadu Sam melibatkan sejumlah musisi dan kolaborator ternama lintas generasi. Produksi dilakukan di Studio 168, yang diproduseri Serdadu Sam bersama Fay Ismail, mixing oleh Fay dan mastering Dimas Pradipta. Ke depannya, Serdadu Sam juga merencanakan showcase album serta perilisan Kronik dalam format fisik.
“Saya berharap album ini dapat memberikan pengalaman musikal yang berbeda bagi pendengar yang bersedia meluangkan waktu untuk mengenalnya lebih jauh,” tutup Kenny.
Berisi 13 trek, Kronik disusun sebagai kumpulan bab kehidupan, bukan album dengan pola konvensional. Tema yang diangkat mencakup ambisi, kegagalan, perpisahan, kehilangan, hingga semangat untuk terus memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Kenny, sosok di balik Serdadu Sam, menyebutkan album ini hadir sebagai dokumentasi batin.
“Saya tidak sedang membuat album komersial—saya sedang menulis catatan untuk dipahami oleh siapa pun yang pernah merasa sendiri dan lelah dihantam kerasnya kehidupan,” ujarnya dalam siaran pers.
Beberapa lagu memiliki durasi tidak lazim, salah satunya “Kalibut”, nomor progresif rock berdurasi lebih dari 12 menit yang mengangkat konflik Gaza. “Cerita sebuah lagu selesai saat ia selesai—bukan saat timer berhenti,” jelasnya.
Salah satu yang menjadi sorotan dalam album adalah reinterpretasi “Setengah Tiang” karya Harry Roesli yang dihadirkan dengan restu keluarga, serta sentuhan brass dan emosi kontemporer.
“Kami tidak ingin meng-cover. Kami ingin berdialog dengan masa lalu,” kata Kenny.
Album ini juga memuat single unggulan “Dan Akhirnya Selamanya”, kolaborasi dengan Bemby Gusti, yang ia dedikasikan untuk kedua putrinya.
Dalam proses produksi album, Serdadu Sam melibatkan sejumlah musisi dan kolaborator ternama lintas generasi. Produksi dilakukan di Studio 168, yang diproduseri Serdadu Sam bersama Fay Ismail, mixing oleh Fay dan mastering Dimas Pradipta. Ke depannya, Serdadu Sam juga merencanakan showcase album serta perilisan Kronik dalam format fisik.
“Saya berharap album ini dapat memberikan pengalaman musikal yang berbeda bagi pendengar yang bersedia meluangkan waktu untuk mengenalnya lebih jauh,” tutup Kenny.
No comments yet.
Comment as